Senin, 09 Agustus 2010

Perlindungan Tanaman

PENGERTIAN PENYAKIT TANAMAN
Tanaman dikatakan sakit jika ada perubahan seluruh atau sebagian organ-organ tanaman yang menyebabkan terganggunya kegiatan fisiologi sehari-hari.
1.1.Pengertian Penyakit
adalah mikroorganisme atau patogen yang hanya dapat dilihat oleh alat pembesar khusus,yang dapat nenimbulkan kelainann dan kerugian pada tanaman. Secara spesifik ada yang dinamakan penyakit fisiologis yang penyebabnya bukan organisma hidup, tetapi akibat kekurangan atau kelebihan unsur hara tertentu dengan gejala serangan pada tanaman mirip dengan serangan penyakit akibat mikroorganisma pengganggu tanaman. Yang termasuk mikroorganisma penyebab penyakit tanaman; kapang, jamur, kapang, bakteri dan virus. Penyebab penyakit fisiologis tanaman umumnya disebabkan oleh mikroelemen yang terkandung dalam tanah yang tersedia berlebihan atau sangat kekurangan.
1.2.Pengertian Inang
Secara spesifik inang dapat diartikan sebagai tumbuhan yang diserang hama dan dimanfaatkan sebagai tempat hidup dan makan untuk sementara, sambil menunggu kesempatan untuk menyerang tanaman budidaya. Pada umumnya tumbuhan inang adalah gulma atau pohon pelindung.
1.3. Penyakit fisiologis

Penyakit non patogen atau penyakit fisiologis yaitu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan atau kelebihan unsur hara, air, sinar matahari, dan temperatur.
Tanaman memerlukan sekitar 16 unsur hara untuk pertumbuhannya, unsur hara dapat diperoleh dari udara, air tanah,dan mineral tanaha atau bahan organik. Unsur hara akan membentuk tubuh tanaman menjadi berjuta-juta sel sehingga unsur hara sangat diperlukan dalam proses pertumbuhan suatu tanaman, tetapi diperlukan dalam keadaan yang seimbang dan tidak berlebihan ataupun kekurangan.

 Gejala kelebihan dan Kekurangan Unsur Hara Makro
1) Kekurangan dan kelebihan Nitrogen
Gejala yang nampak pada kekurangan yaitu daun-daun berwarna pucat sampai hijau kekuningan,tanaman kerdil dan produksi kurang, daun-daun sebelah bawah nampak hangus dan mati sebelum waktunya sementara ujung tanaman tetap hijau, buah rontok sebelum waktunya dan perkembangan buah berkurang.
Pada kelebihan gejala yang nampak yaitu masaknya buah tertunda, gugurnya kuncup-kuncup bunga, batang dan cabang jadi banyak mengandung air sehingga menjadi lunak, terjadi klorosis yang diikuti nekrosis.



2) Kekurangan dan kelebihan Fosfor
Pada kekurangan fosfor pertumbuhan tanaman menjadi terhambat, daun berwarna hijau pucat dan tidak mengkilap, bentuk buah jelek atau pada gabah tidak berisi penuh, buah sedikit atau produksi rendah.
Kelebihan unsur ini akan menyebabkan terjadinya penurunan kandungan nitrogen yang drastis sehingga pada proses pembentukan buah, kulit buah menjadi keriput

3) Kekurangan dan kelebihan Kalium
Pada hal ini ada tanaman yang memerlukan kalium dalam dosis yang tinggi ada juga yang rendah, tetapi gejala yang sering nampak jika kekurangan yaitu perkembangan tunas tanaman menjadi lemah yang akan berakhir dengan pucuk yang mengecil dan ranting mati ini khusus pada tanaman berkayu.
Jika kelebihan akan menyebabkan proses pemasakan buah menjadi lebih lama serta akan lebih masam.

Penggolongan Penyakit Tanaman Daapat dibedakan Menjadi Dua Yaitu
1. Berdasarkan Sifatnya atau Tipenya, yaitu:
a. Lokal
Penyakit hanya terdapat pada satu tempat atau pada bagian tanaman tertentu,misalnya pada buah, bunga,daun,cabang,atau akar.
b. Sistemik
Penyakit menyebar keseluruh tubuh tanaman.Baik pada buah,daun, batang, bunga taaupun akar.
2. Berdasarkan Bentuknya atau Tanda-Tandanya,Yaitu:
Nekrosis, layu, kanker, hipoplasia, hyperplasia.

KONSEP BAGAIMANA TANAMAN DAPAT MENJADI SAKIT
Konsep timbulnya suatu penyakit semakin berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu penyakit tumbuhan, pada awalnya para pakar yang dipelopori oleh DeBary menujuk pathogen sebagai penyebab penyakit yang utama, selanjutnya diketahui bahwa dalam berbagai buku teks mengenai penyakit tumbuhan umunya dianut konsep segitiga penyakit (disease triangle) seperti antara lain dikemukan oleh Blanchard dan Tattar (1981).
Ketiga komponen penyakit tersebut adalah inang, pathogen dan lingkungan. Kemudian berkembang sebuah konsep yang dasari pemikiran bahwa manusia ikut berperan dalam timbulnya suatu penyakit tumbuhan karena manusia dapat memberikan pengaruh terhadap pathogen dan tanaman inang itu sendiri serta kondisi lingkungan dimana tanaman itu tumbuh, konsep ini dikenal dengan segi empat penyakit atau (disease squaire) dimana manusia dimasukkan sebagai salah satu faktor dalam komponen timbulnya penyakit. Beberapa faktor komponen dalam penyakit ini selanjutnya dapat diuraikan kembali sehingga konsep timbunya suatu penyakit semakin
Konsep Segitiga Penyakit (Disease Triangle)
Konsep pertama yang dikembangkan para pakar adalah konsep segitiga penyakit (Gbr. 1), dimana konsep ini menjelaskan timbulnya penyakit biotik (penyakit yang disebabkan oleh pathogen) yang di dukung oleh kondisi lingkungan dan tanaman inang.











Gambar 1. Segitiga Penyakit
Untuk timbulnya suatu penyakit paling sedikit diperlukan tiga faktor yang mendukung, yaitu tanaman inang atau host, penyebab penyakit atau pathogen dan faktor lingkungan (Gbr. 1).
• Tanaman Inang
Pengaruh tanaman inang terhadapnya timbulnya suatu penyakit tergantung dari jenis tanaman inang, kerentanan tanaman, bentuk dan tingkat pertumbuhan, struktur dan kerapatan populasi, kesehatan tanaman dan ketahanan inang. Tanaman inang dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :
1. Tanaman inang rentan : inang yang mudah terserang pathogen sementara pada kondisi sama dan pathogen sama, inang lain resisten.
2. Tanaman inang resisten : Inang yang tahan terhadap serangan pathogen sementara pada kondisi sama dan pathogen sama, inang lain rentan.
3. Tanaman inang toleran : inang yang rentan tetapi inang tersebut masih mampu menghasilkan produk yang ekonomis.
4. Tanaman inang sekunder : inang yang bukan menjadi makanan utama.
5. Tanaman inang primer : inang yang memang menjadi tempat dan sumber nutrisi makanan utama/pokok dari pathogen.
6. Tanaman inang alternative : tempat dan nutrisi makanan jika tidak ada inang sekunder, primer dimana pathogen dimasing-masing inang bias menyelesaikan siklusnya.
7. Tanaman inang perantara : inang yang dapat dijadikan perantara untuk menyelesaikan siklus penyakit. Keberadaan inang ini pada salah satu jenis penyakit menjadi penting, karena tanpa inang perantara ini meskipun pathogen ada dan inang utama ada, pathogen akan mati sehingga tidak akan terjadi penyakit.
Timbulnya suatu penyakit juga tergantung pada sifat genetic yang dimiliki oleh inang itu sendiri, terdapat inang yang rentan (suscept), tahan (resisten), toleran (tolerant), kebal (immune) yaitu tanaman yang tidak dapat diinfeksi oleh pathogen. Adanya macam-macam sifat ini digunakan untuk melakukan upaya pencegahan penyakit dengan memanipulasi gen sehingga dapat dihasilkan tanaman yang resisten bahkan immune Umur, bentuk dan kerapatan pohon juga berpengaruh terhadap kemungkinan tanaman tersebut diserang penyakit. Misalnya beberapa marga fungi seperti Fusarium, Phytophthora, Phythium, Sclerotium dan Rhizoctonia banyak menyerang tanaman sengon, mangium, eukaliptus, dammar, sonokeling dan gmelina pada tingkat semai.
Faktor lain dari inang yang berpengaruh terhadap kemungkinan terserangnya sutu penyakit adalah kesehatan tanaman inang. Tanaman yang sehat merupakan tanaman yang mempunyai pertumbuhan baik
• Lingkungan

Faktor lingkungan yang dapat memberikan pengaruh terhadap timbulnya suatu penyakit dapat berupa suhu udara, intensitas dan lama curah hujan, intensitas dan lama embun, suhu tanah, kandungan air tanah, kesuburan tanah, kandungan bahan organic, angin, api, pencemaran air. Faktor lingkungan ini memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang dan mnenciptakan kondisi yang sesuai bagi kehidupan jenis pathogen tertentu.
 Interaksi antar Komponen
Diantara ketiga komponen ini manakah yang paling bertanggung jawab terhadap timbul dan berkembangnya suatu penyakit? Berkembangnya suatu penyakit tegantung pada interaksi ketiga komponen tersebut, yaitu kerentanan inang, derajat virulensi suatu pathogen serta kecenderungan apakah faktor lingkungan lebih mendukung pathogenesis ataukah sebaliknya mendukung keteguhan pertumbuhan inang. Pada konsep segi tiga penyakit ini apabila salah satu faktor penyebab tidak ada, maka tidak akan ada suatu kejadian penyakit. Contohnya apabila ada satu faktor yaitu pathogen tidak ada, yang ada hanya tanaman inang yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak optimal untuk pertumbuhannya, maka kemungkinan tidak akan terjadi penyakit. Sebaliknya apabila dalam kondisi pertumbuhan tanaman tersebut diatas dan ada pathogen disekitar tanaman tersebut serta lingkungan mendukung pertumbuhan pathogen, maka kecenderungan untuk terjadinya infeksi penyakit pada tanaman cukup besar.
Kemudian apabila ada suatu tanaman inang ditanam pada lingkungan yang baik yaitu tanah yang subur dengan pengolahn yang baik dan pemberian pupuk yang cukup dan seimbang, maka tentunya akan menjamin pertumbuhan tanamanyang sehat, walaupun ada pathogen, maka kecil kemungkinan penyakit dapat terjadi. Hal ini dikarenakan tanaman inang kemungkinan dapat tahan terhadap serangan pathogen. Sedangkan apabila tanaman inang tidak baik dalam pertumbuhannya yang berarti kondisinya rentan, kemudian ada pathogen dan lingkungan mendukung pertumbuhan pathogen maka kemungkinan terjadinya infeksi penyakit sangat besar. (daun dan batang segar), batang lurus, tajuk lebat dan tidak terserang hama dan penyakit.
Salah satu faktor yang mendukung dihasilkannya tanaman yang sehat adalah bibit yang ditanam adalah berasal dari bibit yang sehat. Bibit yang sehat ini berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-5006.1-2006 tentang Mutu bibit, merupakan bibit segar yang tidak terserang hama dan atau penyakit dan atau tidak ada gejala kekurangan unsur hara.
Teknik memperoleh bibit sehat ini dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain, kultur jaringan, perlakuan terhadap benih secara kimiawi dan perlakuaan terhadap benih dengan mikroorganisme. Beberapa mikroorganisme yang dapat digunakan berdasarkan hasil penelitian antara lain Fusarium oxysporum non patogenik (F.o.NP), Bacillus, Pseudomonas flourescens. Di beberapa Negara maju seperti Jepang, Jerman, Cina dan AS telah menggunakan Fo.NP untuk memproduksi bibit sehat dan toleran terhadap patogen tertentu. Di Indonesia telah digunakan secara luas untuk memproduksi bibit vanili sehat (vanili Bio-FOB) yang bebas dan toleran terhadap penyakit busuk batang vanili. Kemungkinan tidaknya tanaman menderita penyakit juga dipengaruhi ketahanan tumbuhan (senjata yang dimiliki) tersebut untuk mencegah timbulnya penyakit. Dikenal 2 (dua) mekanisme pertahanan yang dimiliki tumbuhan pada saat pra-infeksi maupun pasca infeksi yaitu pertahanan Fisik-mekanik dan pertahanan Biokimia.
1. Pra Infeksi
Pada tahap ini, mekanisme pertahanan fisik-mekanik (pertahanan structural) berupa duri, bulu, lapisan lilin yang terdapat pada daun,batang ataupun organ lainnya. Sedangkan pertahanan biokimia berupa senyawa yang dihasilkan, yaitu : senyawa hasil metabolism sekunder (flavanoid, alkaloid, glycocid), senyawa yang dikeluarkan sebagai eksudat, senyawa yang menghambat, tidak menghasilkan senyawa yang diinginkan pathogen.
2. Pasca Infeksi
Pada tahap ini, mekanisme pertahanan fisik-mekanik yang dimiliki inang dapat berupa pertahanan sitoplasmid (pada waktu pathogen masuk dalam sel pathogen dikurung dalam sel), pertahanan seluler (sel inang membuta selubung sehingga pathogen tidak dapat menyentuh sel lain), pertahanan jaringan (pembentukan lapisan gabus, lapisan absisi), pertahanan organ (menjatuhkan organ yang terkena penyakit). Sedangkan mekanisme pertahanan biokimia tahap ini berupa membentuk senyawa beracun, membentuk senyawa yang dapat membuat tidak aktif enzim pathogen, membentuk senyawa yang dapat mendetoksi pathogen, membentuk senyawa yang dapat merubah lintasan, membentuk senyawa yang dapat merubah biosntetik dalam proses metabolism, menghasilkan enzim yang dapat merubah senyawa yang tadinya tidak beracun menjadi beracun.

• Patogen

Yang dimaksud pathogen adalah organism hidup yang mayoritas bersifat mikro dan mampu untuk dapat menimbulkan penyakit pada tanaman atau tumbuhan. Mikroorganisme tersebut antara lain fungi, bakteri, virus, nematoda mikoplasma, spiroplasma dan riketsia.
 Fungi/Cendawan
- Fungi merupakan organisme tingkat rendah yang belum mempunyai akar, batang, dan daun tetapi mampu menimbulkan kerusakan jaringan bahkan mematikan tanaman inang. Tubuhnya ada yang terdiri dari satu sel dan ada pula yang terdiri dari banyak sel, yang terdiri banyak sel umumnya berbentuk benang (hifa), hifa yang bercabang-cabang membentuk bangunan seperti anyaman yang disebut miselium. Fungi mempunyai tiga ciri, yaitu: 1) tidak mempunyai jaringan pembuluh, 2) salah satu alat berbiaknya adalah spora, 3) tidak mempunyai klorofil. kelas-kelas dalam jamur dan yang paling banyak menjadi penyebab penyakit tanaman, yaitu: 1) Ascomycetes, 2) Basidiomycetes, 3) Deuteromycetes, 4) Phycomycetes. Contoh penyakit yang ditimbulkan oleh pathogen ini adalah penyakit karat daun (jamur Hemileia vastatrix B.et Br) (Gbr. 2), penyakit bercak daun cercospora (jamur Cercospora coffeicola B.et Cke.) (Gbr.3), penyakit jamur upas (jamur Corticium salmonicolor B.et Br.)

Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4
 Bakteri

Bakteri merupakan tumbuhan bersel satu dan berdinding sel, tetapi bersifat prokariotik (tidak mempunyai membran inti). Bakteri mempunyai kemampuan mereproduksi individu sel dalam jumlah sangat banyak dengan waktu singkat sehingga menjadi penyebab penyakit yang mempunyai sifat merusak pada inang. Penyebaran bakteri tidak melalui spora, sehingga secara adaptif tidak dapat disebarkan melalui angin. Akan tetapi, bakteri patogenik mampu berpindah dengan perantara air, percikan air hujan, binatang, dan manusia. Contoh bakteri : Pseudomonas aeruginosa (Gbr.5),

Pseudomonas syringae (Gbr.6). Contooh penyakit yang disebabkan oleh pathogen bakteri, mis kanker pada jeruk (Citrus cancer).

 Nematoda
Nematoda atau nematoda yang memarasit tanaman mempunyai ukuran yang sangat kecil, memanjang dan berbentuk silinder. Nematoda non-parasit memakan jamur, bakteri, nematoda lain atau serangga kecil yang hidup di tanah. Sedangkan, nematoda parasit tanaman mempunyai struktur khusus yang disebut spear (lembing) atau stylet (jarum). Berdasarkan perilaku, nematoda parasitik pohon dibagi menjadi dua, yaitu: Nematoda ektoparasit, nematoda yang pada saat memarasit tanaman tubuhnya tetap berada di luar akar dan hanya sebagian kecil dari tubuh nematoda yang masuk ke dalam jaringan tumbuhan inang ; Nematoda endoparasit, yaitu: nematoda yang saat memarasit tanaman, tubuhnya masuk, merusak dan melakukan reproduksi di dalam akar tanaman. Contoh nematode yaitu : Meloidogyne spp. (Gbr.7), Paratylenchus spp. (Gbr8)

Gambar 7. Gambar 8
 Virus

Virus merupakan organism aseluler, dimana asam nuklead virus hanya terdiri DNA atau RNA saja. Virus merupakan penyebab penyakit yang paling merusak, tidak hanya terjadi pada tanaman, tetapi juga pada manusia dan ternak. Virus dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, mengurangi hasil produksi, bahkan mampu menimbulkan kematian tanaman inang (penyakit CVPD pada jeruk). Contoh virus adalah TMV (Tobacco Mozaic Virus) (Gbr.9).

Gambar 9. Virus TMV, Gejala pada Daun dan Batang
Suatu organisme disebut patogen apabila dapat memenuhi postulat Koch yaitu :
1. Patogen ditemukan pada pohon yang terserang patogen
2. Patogen dapat diisolasi dan diidentifikasi
3. Patogen dapat diinokulasikan pada spesies inang yang sama dan menunjukkan gejala yang sama
4. Dapat diisolasi kembali

Pengaruh komponen pathogen dalam timbulnya penyakit sangat tergantung pada kehadiran pathogen, jumlah populasi pathogen, kemampuan pathogen untuk menimbulkan penyakit yaitu berupa kemampuan menginfeksi (virulensi) dan kemampuan menyerang tanaman inang (agresivitas), kemampuan adaptasi patogen, penyebaran, ketahanan hidup dan kemampuan berkembangbiak pathogen. Kemampuan pathogen menyerang tanaman inang dipengaruhi oleh senjata yang dimiliki oleh pathogen, dimana senjata ini sangat tergantung pada jenis pathogen itu sendiri. Secara umum senjata yang dimiliki pathogen untuk menyerang tanaman dapat dibedakan menjadi dua yaitu fisik-mekanik dan biokimia. Senjata fisik-mekanik dapat berupa jarum (stilet) seperti yang dimiliki nematode atau berupa austarium yang dimiliki oleh fungi. Sedangkan yang biokimia dapat berupa enzim, toksin, antibiotic, zat pengatur tumbuh (ZPT) dan senyawa yang berfungsi sebagai racun atau penyumbat.

PENGENDALIAN

1. Teknik budidaya .

Pengendalian hama, patogen dan gulma dengan teknik budidaya pada dasarnya dilakukan engan menciptakan kondisi lingkungan yang lebih menguntungkan bagi tanaman budidaya dan kurang optimal untuk perkembangan hama, patogen dan gulma, sehingga populasi musuh musuh tanaman ini dapat ditekan agar tidak melampui nilai ambang pengendaliannya. Jadi pengendalian secara teknik budidaya bersifat preventif. Pengendalian melaui tehnik budidaya dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, antara lain
 Memodifikasi kondisi lingkungan agar tidak untuk perkembangan hama, patogen, dan gulma;
 Memutus ketersediaan bahan makanan bagi hamadan mikrobia patogenik;
 Mengalihkan penyebaran populasi hama dan mikrobia patogenik ke tempat lain.

Kondisi lingkungan yang kurang mendukung perkembangan hama, patogen tanaman, atau gulma antara lain dapat dilakukan melalui sanitasi, pembuangan. Organisme Penganggu Tanaman tumbuhan inang bagi hama dan patogen pengolahan tanah dan pengaturan tata air lahan. Sanitasi dilakukan dengan membersihkan sisa – sisa tanaman dari lahan budidaya. Dengan cara ini maka sisa – sisa tanaman tersebut tidak dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan bagi hama atau tempat hidup bagi mikrobia patogenik. Pembasmian tumbuhan inang lain selain tanaman sasaran akan pula menyulitkan bagi hama atau mikrobia patogenik untuk berkembang biak. Pengolahan tanah dapat menghambat perkembangan gulma juga hama dan penyakit tanaman. Pengolahan tanah dapat membunuh hama yang terdapat di dalam tanah karena hama terkena sinar matahari langsung atau dimakan oleh predatornya. Pengolahan tanah juga dapat menyebabkan terbenamnya larva atau pupa hama serangga sehingga larva atau pupa ini Menjadi mati.
Pengaturan tata air pada lahan dapat diterapkan sebagai salah satu cara untuk mengendalikan hama tanaman yang hidup di dalam atau permukaan tanah. Penggenangan akan mematikan instar hama yang berada di dalam tanah. Rotasi tanaman dan pemberaan lahan budidaya dapat dilakukan untuk memutus ketersediaan makanan atau kebutuhan hidup lainnya bagi hama tertentu.
Upaya untuk melindungi tanaman dari serangan hama tertentu dapat dilakukan dengan cara mengalihkan sasaran serangan hama tersebut.
2. Penggunaan tanaman yang resisten atau toleran.

Beberapa kultivar tau varietas tanaman mempunyai tingkat ketahanan yang lebih tinggi terhadap serangan hama atau patogen dan ada pula jenis tanaman yang mampu berkompetisi dengan lebih baik terhadap pengusaan lahan oleh gulma. Ketahanan tanaman terhadap serangan hama atau patogen dapat disebabkan karena morfologi tanaman atau karena tanaman tersebut menghasilkan senyawa kimia yang dapat membunuh atau tidak disukai oleh hama atau patogen. Keberadaan bulu – bulu daun (trichome) pada tanaman tomat (Lycopersicon esculentum) dan kentang (Solanum tuberosum) merupakan kondisi morfologis yang menguntungkan bagi tanaman tersebut karena intensitas serangan hama menjadi lebih rendah. Beberapa tanaman mengandung senyawa alelokimia yang bersifat merugikan bagi hama yang memangsanya. Senyawa alelokimia yang bersifat menguntungkan bagi tanaman tetapi merugikan bagi hama disebut allomon. Allomon antara lain dapat berfungsi sebagai senyawa pengusir hama (repellent), menekan atau menghambat kegiatan makan oleh hama (suppresant), atau mengganggu pertumbuhan dan perkembangan hama (antibiotik). Beberapa jenis tanaman bersifat toleran terhadap hama, patogen atau gulma. Toleransi berbeda dengan resistensi. Toleransi adalah kemampuan tanaman untuk tetap tumbuh dan berkembang walaupun terserang oleh hama atau patogen atau berkompetisi dengan gula. Hasil yang diperoleh j uga tidak berkurang secara nyata.
3. Fisik dan Mekanik .

Pengendalian secara fisik dan mekanik antara lain adalah dengan cara penggunaan penghalang fisik, pembakaran, Organisme Penganggu Tanaman pemanasan, gelombang suara, radiasi cahaya, lampu perangkap, pengapasan, dan lain – lain. Pengendalian hama dan gulma secara manual atau dengan menggunakan alat dan mesin pertanian juga dapat digolongkan sebagai cara pengendalian mekanik. Penggunaan penghalang fisik sering dilakukan untuk melindungi tanaman dari serangan hama hewan besar, seperti babi hutan. Tanaman juga kadang harus dipagari agar terhindar dari ternak ruminansia. Buah – buahan seperti mangga (Mangifera indica), belimbing (averrhoa carambola), dan jambu biji (psidium guajava) sering dibungkus untuk menghindari serangan lalat buah Bactrocera spp. Pembakaran dilakukan sebagai upaya pembasmian hama atau patogen pada tanaman yang tidak mungkin lagi dapat diselamatkan.
Pembakaran gulma juga sering dilakukan petani. Pembakaran sebagai upaya pengendalian hama, patogen, dan gulma harus dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa musuh alami hama dan mikroorganisme yang bermanfaat perlu untukdilindungi. Pemanasan dilakukan untuk pengendalian hama atau patogen yang menyerang hasil tanaman yang disimpan di gudang. Pemanasan tidak dapat dilakukan terhadap tanaman yang sedang aktif tumbuh, karena pemanasan dapat meyebabkan denaturasi enzim sehingga mengganngu metabolisme tanaman. Penggunaan suara sebagai cara pengendalian hama lebih bersifat pengendalian sesaat, misalnya dilakukan untuk mengusir burung yang sedang atau hendak menyerang tanaman. Pengendalian dengan suara atau bunyi – bunyian ini harus dilakukan secara aktif oleh petani karena efektivitasnya yang bersifat sesaat tersebut. Cahaya lampu dapat digunakan untuk mengundang kedatangan serangga terbang.
Serangga yang berdatangan kemudian dapat dibunuh, baik secara fisik maupun dengan
penggunaan agrokimia.
4. Biologi

Pengendalian secara biologi dilakukan dengan menggunakan musuh alami dari hama atau mikroba patogenik tanaman. Musuh alami hama tanaman dapat dibedakan menjadi parasitoid, predator dan patogen.
Parasitoid adalah serangga yang menjadi parasit bagi serangga atau hewan arthropoda lainnya. Parasitoid bersifat parasitik pada fase pradewasa, sedangkan pada fase dewasa serangga ini tidak terikat lagi dengan inangnya. Larva parasitoid yang menyelesaikan fase perkembangannya diluar tubuh inangnya disebut ektoparasitoid., sedangkan yang meyelesaikan fase perkembangannya di dalam tubuh inangnya disebut endoparasitoid. Fase inang yang diserang umumnya adalah telur dan larva, beberapa parasitoid menyerang pupa, dan jarang yang yang menyerang imago. Parasitoid ada yang menyerang inang secara sendiri dan ada pula yang secara bersama – sama menyerang satu inang. Parasitoid yang menyerang secara sendiri disebut parasitoid soliter, sedangkan yang menyerang secara bersama – sama disebut parasitoid gregarius.
Predator adalah hewan yang hidup bebas dan memangsa hewan lainnya. Predator dapat memangsa berbagai jenis hama dan pada berbagai fase perkembangan Organisme Penganggu Tanaman dari hama tersebut. Famili predator yang banyak digunakan adalah kumbang kubah (Coleoptera;Coccinellidae), kumbang tanah (Coloeoptera; Carabidae), undur – undur (Neuroptera,Chrysopidae), dan kepik buas (Hemiptera; Reduviidae). Hama tanaman juga dapat terserang oleh mikroba patogenik, misalnya bakteri, protozoa, nematoda, dan dapat pula terinfeksi oleh virus. Untuk hama serangga, saat ini telah dikenal lebih dari 1500 jenis patogen yang dapat menginfeksi serangga tersebut. Bakteri patogen baga hama yang paling banyak mendapat perhatian adalah Bacillus thuringiensis (sering disingkat Bt). Bakteri ini telah terbukti
efektif untuk pengendalian larva hama tanaman ordo Lepidoptera. Bakteri Bacillus thuringiensis telah digunakan untuk pengendalian hama kubis (trichoplusia sp).

5. Kimia .

Pengendalian secara kimia dilakukan dengan aplikasi pestisida. Pestisida merupakan senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh organisme musuh alami tanaman. Berdasarkan jenis organisme sasarannya, maka pestisida dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu:
a. Insektisida,pestisida untuk pengendalian serangga
b. Fungisida untuk pengendalian jamur disebut fungisida
c. Bakterisida,pestisida untuk penegendalian bakteri
d. Nematisida, pestisida untuk penegendalian bakteri
e. Herbisida , pestisida untuk pengendalian gulma
f. Akarisida,untuk pengendalian tungau
g. Pestisida Nabati
Pestisida telah digunakan secara meluas dalam budidaya tanaman hortikultura di Indonesia, terutama pada tanaman sayuran.
6. Karantina (Regulasi/Peraturan Pemerintah)
Karantina merupakan salah satu bentuk pengendalian untuk mencegah terjadinya penyebaran hama penyakit baik pada tumbuhan, hewan, ikan maupun produk turunannya melalui Perundang-Undangan/Peraturan Pemerintah dalam hal ini dengan dasar hukum yaitu UU No. 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, yang dijabarkan dengan PP No 82 Tahun 2000 Tentang Karantina Hewan, PP No 15 Tahun 2002 Tentang Karantina Ikan dan PP No 16 Tahun 2002 Tentang Karantina Tumbuhan
Karantina adalah tempat pengasingan dan/atau tindakan sebagai upaya pencegahan masuknya dan tersebarnya hama penyakit atau organisme pengganggu dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain didalam negeri atau keluarnya dari dalam wilayah Republik Indonesia.













PESTISIDA DAN APLIKASI
Pengertian yang menarik tentang pestisida dikemukaan oleh Meister et al,(1985) yangmenyatakan bahwa pestisida adalah racun ekonomis. Jadi pestisida adalah racun yang mempunyai sifat ekonomis, penggunaan pestisida dapat memberikan keuntungan tetapi juga dapat dapat mengakibatkan kerugian. Pengalaman menunjukkan bahwa penggunaan pestisida sebagai racun sebenarnya lebih merugikan dibanding menguntungkan, yaitu dengan munculnya berbagai dampak negatif yang diakibatkan oleh pestisida tersebut. Karena alasan tersebut, maka dalam penggunaan pestisida harus memperhatikan hal-hal berikut :
a. Pestisida hanya digunakan sebagai alternatif terakhir apabila belum ditemukan cara pengendalian lain yang dapat memberikan hasil yang baik.
b. Apabila terpaksa menggunakan pestisida gunakan pestisida yang mempunyai daya racun rendah dan bersifat selektif.
c. Apabila terpaksa menggunakan pestisida lakukan secara bijaksana.
Penggunaan pestisida secara bijaksana adalah penggunaan pestisida yang memperhatikan prinsip 5 (lima) tepat, yaitu :
1) Tepat sasaran
Tentukan jenis tanaman dan hama sasaran yang akan dikendalikan, sebaiknya tentukan pula unsur-unsur abiotis dan biotis lainnya. Ini berarti sebelum melakukan aplikasi pestisida, terlebih dahulu harus dilakukan analisis agroekosistem.

2) Tepat jenis
Setelah diketahui hasil analisis agroekosistem, maka dapat ditentukan pula jeis pestisida apa yang harus digunakan, misalnya untuk hama serangga gunakan insektisida, untuk tikus gunakan rodentisida. Pilihlah pestisida yang paling tepat diantara sekian banyak pilihan. Misalnya, untuk pengendalian hama ulat daun kubis. Berdasarkan rekomendasi dari Komisi Pestisida tersedia + 60 nama dagang insektisida. Jangan menggunakan pestisida tidak berlabel, kecuali pestisida botani racikan sendiri yang dibuat berdasarkan anjuran yang ditetapkan. Sesuaikan pilihan tersebut dengan alat aplikasi yang dimiliki atau akan dimiliki.
3) Tepat waktu
Waktu pengendalian yang paling tepat harus ditentukan berdasarkan
a. Stadium rentan dari hama yang menyerang tanaman, misalnya stadium larva instar I, II, dan III.
b. Kepadatan populasi yang paling tepat untuk dikendalikan, lakukan aplikasi pestisida berdasarkan Ambang Kendali atau Ambang Ekonomi.
c. Kondisi lingkungan, misalnya jangan melakukan aplikasi pestisida pda saat hujan, kecepatan angin tinggi, cuaca panas terik.
d. Lakukan pengulangan sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.
4) Tepat dosis/konsentrasi
Gunakan konsentrasi/dosis yang sesuai dengan yang dianjurkan oleh Komisi Pestisida. Untuk itu bacalah label kemasan pestisida. Jangan melakukan aplikasi pestisida dengan konsentrasi dan dosis yang melebihi atau kurang sesuai dengan anjuran akan dapat menimbulkan dampak negatif.
5) Tepat Cara
Lakukan aplikasi pestisida dengan cara yang sesuai dengan formulasi pestisida dan anjuran yang ditetapkan.
Penggolongan pestisida yang berdasarkan
1. Cara kerja
a. Insektisida:
 Racun kontak
 Racun perut
 Racun pernafasan
b. Herbisida:
 Selektif
 Tidak selektif
c. Fungisida:
 Kontak
 Sistenik
 Racun pernafasan
2. Berdasarkan sifat fisik
a. Pestisida padat
b. Pestisida cair
c. Pestisida gas



3. Berdasarkan bentuk formasi
a. Butiran (gramle) pestisida dalam bentuk butiran ini, cara penggunaannya sangat praktis yaitu cukup disebarkan dengan tangan saja
Contoh: diazinon 10 G, Mipzinon 6/4 G, Mipcin 4 G
b. Tepung (dust) pestisida dalam bentuk dust ini, cara penggunaannya dengan dihenbuskan (dalam bentuk kabut)
c. Tepung yang dapat dilarutkan dalam air (WP/SP) pestisida dalam bentuk ini cara aplikasinya dilarutkan dulu dengan air kemudian disemprotkan dengan memakai alat semprotan
d. Cairan yang dapat dilarutkan (EC)
e. Cairan yang dapat dimulsikan (EC)
4. Berdasarkan kandungan bahan
a. Berasal dari tumbuhan (rotone, nicotine, pyrethin)
b. Berasal dari bahan an organik
c. Berasal dari bahan organik sintetis
d. Berasal dari mikroba (jasad remik)
e. Berasal dari minyak
3. Jenis Peralatan Pengendalian Hama
Secara umum peralatan pengendali hama dapat digolongkan berdasarkan :
a. Bahan kimia yang digunakan
1) Untuk menyebarkan =]bahan kimia yang berupa cairan :
 sprayer yang disebarkan berupa sprayer
 Mist sprayer yang disebarkan burupa mist
 Fog machine yang disebarkan berupa fog
2) Untuk menyebarkan bahan kimia berupa bubuk (dust) dinamakan duster
3) Untuk menghembuskan gas dinamakan fumigaster
b. Berdasarkan sumber daya penggeraknya.
1) yang digerakan daya manusia, misalkan hand sprayer, hand duster
2) yang digerakan daya hewan, misalkan animal sprayer, animal duster
3) yang digerakan motor (engine), misalkan power sprayer, power duster.
Kecuali penggolongan di atas masih ada cara-cara lain untik menggolongkan peralatan pengendali hama yang tidak dibicarakan di sini.
3.1. Hand spreyer (Gambar 5)
Sprayer adalah alat/mesin yang berfungsi untuk memecah suatu cairan, larutan atau suspensi menjadi butiran cairan (droplets) atau spray.
 Home hold sprayer (untuk kebutuhan rumah tangga)
 Knapsack-sprayer dengan pompa udara tekan (Gambar 5)
 Knapsack-sprayer bertekanan konstan dengan pompa plunyer
 Bucket sprayer (sprayer ember)
 Barrel sprayer (sprayer tong)
 Wheel barrow sprayer (sprayer beroda)
2.2. Power sprayer (Gambar 6)
 Hidraulik sprayer (sprayer hidrolis) tekanan dikerjakan langsung oleh pompa terdahadap cairan
 Hydro-pneumatic sprayer tekanan menggunakan kompresor (tidak langsung)
 Mist sprayer/blower sprayer/consentrated sprayer pembentukan sprayer karena tiupan udara berkecepatan tinggi lewat permukaannya
 Terosol generators-fog machine (mesin penyabut).
2.3. Bagian-bagian sprayer
Bagian-bagian yang penting dari suatu sprayer adalah :
1) Tangki
Tangki merupakan bagian sprayer yang berfungsi untuk tempat bahan cairan yang akan disemprotkan. Kapasitas tangki ada bermacam-macam dari yang kapasitas rendah lebih kecil dari 10 gallons maupun yang lebih besar dari 500 gallons, tergantung macam sprayernya.
Gambar 7. Tipe Knapsack Sprayer Badan tangki Fiberglass
Karena banyak berhubungan dengan obat-obatan dan ada yang bersifat korosif maka sebaiknya tangki dibuat dari bahan yang tahan korosif misalkan stainless steel, dan fiberglass. Bentuk tangki ada bermacam-macam ada yang berbentuk silindris, setengah silinders (bentuk ginjal), dan lain-lain.
2) Pompa
Pompa merupakan bagian yang sangat prinsip bagi suatu sprayer. Apabila kondisi pompanya tidak baik maka hasilnya pun akan tidak memuaskan. Sprayer yang akan digunakan untuk bermacam-macam tujuan sebaiknya dipilih sprayer yang menggunakan pompa bertekanan tinggi :
- pompa piston
- pompa roda gigi
- pompa baling-baling
- pompa dengan impeller (sudu)
- dan lain-lain.
Berikut ini diberikan gambar beberapa macam type pompa pada spraye (Gambar 8 dan 9)












Gambar 8. Type Pompa pada Sprayer
Gambar 9. Nozzle Sprayer (Food Machine & Chemical Corp)
Pada sprayer-sprayer tipe udara bertekanan (pneumatic) ataupun hydropneumatic, pompanya dapat berupa pompa tekan isap atau pun berupa suatu kompresor.
3) Pengaduk (agitator)
Sprayer yang hanya dipergunakan untuk penyemprotan minyak saja, tidak memerlukan agitator. Pada sprayer yang digunakan untuk menyemprotkan campuran senyawa-senyawa kimia, pengaduk ini merupakan suatu keharusan sehingga campurannya diharapkan betul-betul homogen.
Macam-macam pengaduk :
- Pengaduk mekanis : Pengaduk ini biasanya menggunakan lempenglempeng datar atau proprller yang dipasang pada sebuah poros dengan arah memanjang dalam tangki.
- Pengaduk hidrolis : Pengaduk ini dengan jalan menyemprotkan kembali bagian larutan yang telah dipompa ke dalam tangki melalui nozzle khusus.
4) Nozzle
Nozzle adalah bagian sprayer yang berfungsi untuk memecahkan cara menjadi sprayer.
Bagian-bagian dari nozzle dapat dilihat pada Gambar 4 berikut.
Ada beberapa macam nozzle pada sprayer yaitu :
Hallow cone nozzle :
Cara yang menarik ke dalam nozzle mengalami pemusingan hingga penyebaran butiran cairannya akan berbentuk cincin (Gambar 10). Besar kecilnya ukuran sprayer kecuali ditentukan oleh tekanan yang diberikan juga ditentukan oleh tekanan yang diberikan juga ditentukan oleh jarak pemusingan cairannya.





















DAFTAR PUSTAKA

Animin, 1990. Petunjuk Penggunaan Pestisida, PT. Petro Kimia Kayaku, Dersik

Djojosumarto, P. 2000. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.

Hardjosentono. A. 1996. Alat dan Mesin-mesin Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.

Haryono Semangun, 1990. Penyakit-penyakit pada tanaman Hortikultura di Indonesia, Gajah Mada Universitas Press, Jogjakarta.

Kasumbogo Untung, 1993. Petunjuk Pengelolaan Hama Terpadu, Universitas Gajah Mada, Jogjakarta`

Subiyakto Sudarmo, 1992. Pestisida untuk Tanaman Khusus, Jogjakarta

TOTOK HERWANTO 1988. Peralatan Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman, Pusat Pengembangan Pendidikan Politeknik Pertanian Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar